Thursday, July 02, 2015

Kisah kamu dan aku!

Pernahkan Anda bertemu dengan seorang dan/atau beberapa "guru matre"? Idealnya, guru identik dengan istilah "pahlawan tanpa tanda jasa" karena sumbangsih mereka yang tanpa pamrih demi mencerdaskan anak didiknya. Namun terkadang, ada "beberapa" guru (baca: tidak semua guru😁) yang seolah-olah mata batinnya digerayangi oleh kabut hitam, sehingga munculah apa yang saya anggap sebagai "guru matre".

Kiblat para 'guru matre' ini biasanya berubah dari arah mengajar 'tanpa pamrih' (bila diasosiasikan dengan istilah sebelumnya, 'pahlawan tanpa tanda mata' ekh 'tanda jasa' reeek) ke arah "murid berduit" alias "murid borju". Pada umumnya murid-murid 'jenis' ini adalah anak para pejabat pemerintahan, or pemilik perusahaan atau pelaku usaha kelas menengah atas bermodalkan puluhan or ratusan juta. Biasanya para murid-murid dari kalangan ini gampang dikenali walau hanya dengan selayang pandang saja, karena kebiasaan mereka yang sering mengenakan sepatu or tas 'branded' papan atas. Tak jarang mereka bolak-balik LN or luar daerah bersama ortu mereka, menenteng HP mahal, beruang jajan diatas rata-rata rekan murid lainnya, pun biasanya memiliki kendaraan alias nyetir padahal biasanya SIM belum bisa diperuntukkan bagi anak usia mereka alias dibawah umur.

Terkadang (baca: tidak semua laki-laki......) ouupppssss Sorry, dangdut kumat!!, tidak semua murid borju ini maksud saya, berotak encer karena sudah tercemar dengan berbagai limbah industri usaha babe mereka biasanya. Lha piye, bagaimana mau jadi pintar kalo mereka konsentrasinya terpecah akibat liburan, or barang-barang mahal lainnya yang bisa jadi menjadi barang "mewah" buat murid dari golongan ekonomi menengah dan bawah. Akibat otak yang rata-rata namun ber'doku tebal (say thanks to their parents), si para 'guru matre' bersorak! 

Nilai yang seharusnya sesuai kemampuan, berubah menjadi momok menakutkan bagi murid 'GOLEKLEMAH'. Betapa tidak??!! Nilai rendah para murid 'ORKAY' disulap menjadi nilai WOW oleh sang 'guru matre'. Murid GOLEKLEMAH ini biasanya (tidak selamanya loh ya...) berkemampuan diatas rata-rata hanya bisa gigit jari. Karena apa daya, walaupun pintar namun kondisi keuangan yang terbatas tak mampu bersaing dengan murid super kaya dimata sang 'guru matre'. 

'Guru matre' tak salah akibat 'kematrean' mereka. Karena mungkin gaji tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena mungkin harga-harga barang kebutuhan mahal, karena mungkin biaya pengobatan mahal, karena mungkin anak mereka banyak, karena mungkin harus bayar hutang, karena mungkin harus bayar kredit,  karena mungkin tuntutan ber'sosialita yang tinggi (bayar kredit kursi, lemari, tas 'KW Super' Branded, bayar paket pemutih, de eL el). Tak usah khawatir, orang-orang diluar sana tak akan tau sepak terjang Anda. Bukan pula urusan mereka to??

Murid borju tak salah.... Tak ada yang bisa menghindari takdir, apalagi takdir terlahir menjadi orang kaya. Hihihi. Bersyukurlah kalian, karena memiliki semua itu, sesuatu yang tak dimiliki oleh 'orang lain'.

Murid pintar yang miskin tak salah.... Tak ada yang bisa mengubah nasib (makanya mereka berusaha menjadi pintar, karena mereka mau merubah nasib mereka kelak setelah sekolah). Sujud syukurlah kalian, karena tidak banyak orang yang mendapatkan anugerah seperti kalian.

Nah apa yang salah???? 

Wallahualam bisawab! 

Tuesday, June 30, 2015

Muslim Indonesia Vs Muslim di Indonesia

Sekedar berbagi, saya setuju dengan "Islam di Indonesia" dan agak takut setiap kali mendengar "Islam Indonesia". Bagi saya "Islam Indonesia" memili aura yang begitu "magis". Minggu ini saya agak kalang kabut tiada duanya, setelah beberapa Rekan sesama muslim dari negara lain, kali ini Pakistan, iran, Turki dan Egypt menanyakan tentang keabsahan video 7 menit shalat tarawih. Oh iya saya sedang Study di Australia, tepatnya di Adelaide. 

Saya muslim, dan tanpa malu mengakui jika pengetahuan tentang Islam saya agak terbatas "unless" membuka kembali Alquran dan terjemahannya, karena bagi saya Alquran Nur karim adalah seluas-luasnya ladang ilmu, melebihi "mesin pencari Google" kalo saya bisa mengatakan demikian. Saya lebih suka menggunakan terjemahan yang berbahasa Inggris ketimbang yang memiliki terjemahan bahasa Indonesia, bukan mau sok-sok'an or ke bule-bulean dan tak cinta Indonesia, akan tetapi saya lebih paham yang berbahasa Inggris, walaupun saya orang Indonesia dan pastinya lebih dari sekedar memahami bahasa Indonesia, namun terjemahan Alquran yang berbahasa indonesia sangat membingungkan dan berbelit-belit. Anyway, ini bukan inti permasalahan yang ingin saya bagi, karena masalah tafsir Inggris-Indonesia adalah "preferences" alias kembali ke masing-masing kita, "kita lebih suka yang mana". 


Kembali ke pokok permasalahan, beberapa rekan muslim saya dari beberapa negara muslim yang telah saya sebutkan sebelumnya menanyakan ke saya:

"Atun, apa betul seperti itu cara orang Indonesia melakukan shalat Taraweh?, kalo iya, bagaimana dengan rukun-rukun sholat? Walaupun itu sholat sunat, tapi setidaknya lengkapilah rukun sholat, karena tidak sah suatu sholat tanpa mendirikan rukun sholat yang sempurna"

Duh! Saya bagaikan ditampar  oleh 100an orang pegulat sumo yang memiliki berat badan lebih dari 100kg masing-masingnya😭. Saya yang nyaris tak paham arah pertanyaan itu bingung, maklumlah saya sibuk di Office setiap hari dari pagi kadang pulang malam, dan tak memiliki waktu luang, pun weekend saya tetap harus berpusing-pusing memikirkan disertasi yang tak kunjung rampung, manalagi ditambah perasaan mengharu biru rindu tanah air, keluarga yang jauh di seberang benua, apalagi masalah $ "dollar" yang kian hari kian "minim" di rekening (hehehehe, maaf jadi curhat, nasib.... Nasib....). Next!! 

Saya meminta penjelasan lebih lanjut atas pertanyaan mereka: "What is the meaning of your question, please tell me more about it, I am kind Of getting lost".

Salah seorang rekan muslim Pakistan mengirimkan Link video tentang Shalat Taraweh 7 menit yang ditayangkan oleh metro TV, barangkali Anda semua sudah menyaksikan video berdurasi kurang dari 10
Menit itu? Sekedar informasi tambahan tentang rekan saya itu, beliau sangat beriman dan pengetahuan keislaman beliau bisa diacungkan jempol, beliau asal Peshawar, perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan, di daerah itu para demonstran anti Pemerintah Pakistan yang dikenakan dengan istilah "Taliban" berpusat, mereka menginginkan pendirian sarekat Islam untuk landasan negara Pakistan, intinya muslim radikal. Saya sertakan capture conversation kami. 

Saya menjawab saya belum nonton video itu, nantilah setelah saya tonton saya akan komentari. Wow!! Betapa terkejutnya saya, antara terpesona dan sedih setelah menyaksikan video tersebut. Saya bingung mau jawab apa? Sebagai muslim (yang tidak tau banyak tentang Islam), saya sadar jika shalat itu "bukan unik" seperti caption Metro TV, tapi ada yang salah (again, saya tidak 'terlalu' berani mengomentari tanpa landasan yang kuat, mungkin ada yang bisa men'support saya dengan alhadits?).


Rekan saya bertanya lagi, "what's wrong with Indonesians?"

Duuuh! Sekali lagi saya ditampar, kali ini bukan oleh 100 orang pegulat sumo berberat badan 100Kg, tetapi oleh 1000 ekor kingkong berberat 200kg per ekor. Duh! Duh! Saya sadar saya hanyalah seorang "Muziatun" seorang mahasiswa penerima beasiswa untuk melanjutkan studi di negara ini, tapi saya sangat paham kalo saya yang bukanlah siapa-siapa ini adalah seorang representative "bangsa Indonesia", dan bukan itu saja, saya adalah representative "muslim Indonesia". "Saya harus menjawab pertanyaan ini dengan bijak, karena di 'kalimat' sayalah martabat bangsa dan derajat muslim di negara saya dipertaruhkan", batin saya berkonspirasi.

"Bare In mind that My country is very diverse" Mulut saya berujar begitu saja tanpa saya sadari. 

"Indonesia adalah negara yang majemuk, beragam suku bangsa, adat istiadat. Video yang kalian tonton adalah tradisi di salah satu daerah. Dan tidak cukup representatif keseluruhan muslim Indonesia. Saya dari daerah Gorontalo, Taraweh kami tidak seperti itu"Lanjut saya. 

"Ah!! Semoga saja mereka tidak bertanya lagi tentang sah dan tidak sahnya shalat Taraweh itu, saya harus bertemu ulama dulu!!!" Batin saya lagi! 

Si muslim adalah Egypt langsung membacakan hadits, saya tak ingat pastinya hadits tersebut tentang akan ada perpecahan di kalangan muslim akibat perbedaan-perbedaan tertentu. 

"Jeez, terbantulah saya" kata hati berkata! 

Poin saya adalah berbeda itu indah, tetapi ketika "core" alias hal yang paling mendasar berbeda, apakah itu masih bisa dikatakan indah? Tapi siapa yang dipersalahkan? Apakah kita harus menyalakan keberagaman kita? 

Kemaren seorang mahasiswi saya mengomentari foto saya yang sedang mengenakan mukena. Foto itu saya ambil sesaat setelah saya selesai sholat zuhur di Office. Berhubung saya Share office dengan beberapa officemates, saya harus sholat di dalam office dihadapan rekan-rekan officemates yang berasal negara yang berbeda background, ada si cantik Yingna yang Chinese, ada si jangkung Siva yang Indian Malaysian, ada si langsing Jennifer yang American, ada si Pintar Bree, si modis Megan, dan si Tomboy Alicia yang Australian, si baik hati Matteo yang Italian, dan si pendiam Lie Vietnamese. 


Saya jawab: "Tidak juga, para officemates saya justru penasaran dengan mukena saya, dengan ajadah saya, dengan sholat saya, De ban puasa saya, tentang konsep poligami dalam Islam, tentang konsep Halal. Mereka mau tau tentang semua"

Bagi saya selama mereka tidak paham, itu tak jadi soal. Karena memang mereka belum paham dan butuh pemahaman. Tetapi jika mereka telah tau namun tidak mengindahkan pengetahuan mereka itu. Nah.... That's The main problem. Selamat merenung muslim Indonesia. Islam indonesia versus Islam di Indonesia. 


Sunday, June 07, 2015

Ingat mama dan papa.

Terkenang kembali tahun 2003, kala itu saya mahasiswi semester 5 fakultas bahasa dan seni (sekarang Fakultas sastra dan budaya, dari FBS menjadi FSB), STKIP Gorontalo (sekarang telah beralih status menjadi Universitas Negeri Gorontalo). Saya masuk saat status masih berstatus IKIP, setahun kemudian berubah menjadi STKIP, dan akhirnya UNG. Mencoba mengadu nasib untuk mengikuti tes CPNS dengan bermodalkan ijazah SMA tentu saja. Mama setuju-setuju saja ketika saya mengutarakan maksud hati tersebut. Beliau berpendapat "kali Aja kamu bisa beruntung anakku"😁😅 yup!! Who knows?! Everything could be Happened if God wants! Sayang, papa berseberang pendapat. Beliau berfikir "Fokuslah saja dulu dengan kuliahmu, toh tinggal berapa semester lagi"

Namanya juga remaja normal yang idealis. Saya tetap Aja mengurus semua kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan. Alhasil, sayapun lulus berkas dan berhak mengikut wawancara, tahap terakhir penerimaan. Bukan kepalang bahagianya saya, bagaikan Vina Panduwinata saat menerima surat cintanya yang pertama. Wakakakakaka. 

Hari H wawancarapun tibalah. Dengan mengenakan seragam khas hitam putih, saya naik "Bentor" menuju Venue. Saya sudah tak ingat lagi apa nama kantornya, yang jelas dibenak saya bangunan, dan ruangannya masih abadi, diputar oleh "KODAK" memori di kepala ini😝

Saya ingat persis, ada 3 penguji dari LAN Makassar. Seorang wanita dan dua orang pria paruh baya. Ketiga penguji akan memanggil 5 orang peserta sekaligus. Hati saya berdegup tak bisa tenang. Seolah-olah ada derap langkah jutaan serdadu berbaris Disana, didalam jantung saya, tak sabar menunggu giliran dipanggil. Nama sayapun dipanggil. Hanya ada seorang lelaki (sekarang teman saya, walau saya belum kenal dia saat itu😝), dan sisanya 4 orang termasuk saya semuanya perempuan. Sang lelaki itu diantar bapak dan ibunya, kebetulan ketemu di parkiran saat saya turun dari Bentor! Bapaknya adalah salah satu punggawa DIKNAS provinsi Gorontalo saat itu, ibunya seorang pengawas! Saat itu dia adalah mahasiswa salah satu universitas terkemuka di Bandung! Saya sempat pula mencuri mendengarkan percakapan salah satu peserta wanita yang akan masuk ujian bersama saya. Wanita itu cantik, sekseh, dari pakaian and sepatu yang dipakainya  terkesan anak borju! Yah! Tak salah lagi dugaan saya. Seorang bapak berpakaian safari mendekati wanita itu sebelum kami masuk ruangan ujian. Ternyata wanita itu adalah anak dari Asisten 1 provinsi Gorontalo saat itu. Ternyata wanita tersebut masih berstatus mahasiswi seperti saya emua berstatus  mahasiswa semuanya) entahlah semester berapa saya tak jelas, yang pasti dia mahasiswa teknik sipil UNSRAT. (ouups saya lupa jika kami pelamar dengan ijazah SMA, So kami s

"Ok! Gonna be tough Muziatun, gonna be tough! You just gonna gamble this time, all out, all or nothing, now or never" batin saya berbisik lirih! "Kau tak akan punya kesempatan Muziatun, ada anak pejabat dan engkau bukan siapa-siapa" aaaah, tragis menyadari hal itu! Ini mah namanya kalah sebelum bertempur!! Tak apalah!! 

Saya menyadari jika saya adalah orang pertama yang selalu diberikan kesempatan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kami duduk berhadapan dengan ke-3 penguji. Pertanyaannya bersifat paralel, yang saya rasa sangat tidak valid! Betapa tidak, jika satu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada 5 peserta, ya jelas saja peserta terakhir mendapatkan jawaban yang paling komplit Karena biasanya selalu menyimpulkan jawaban dari 4 orang kandidat sebelumnya! Sementara saya?!! Saya adalah orang pertama, jadilah saya "The first thinker" karena harus berfikir ekstra keras untuk menjawab pertanyaan (gak bisa copy jawaban coz orang pertama)😭

Peserta pria satu-satunya adalah The third Person, sementara si gadis cantik anak Sang asisten 1 PEMPROV adalah orang terlahir!! "Gila!!! This is So unfair for me!" Batin saya lagi!!

Rasa takabur saya muncul, karena salah satu pertanyaannya berbahasa Inggris sementara saya adalah mahasiswi jurusan bahasa Inggris, boleh Lah cuap-cuap bebek!!! Hehehehe. 

"What Will you do to promote Gorontalo, especially in tourism sector?"

Itu pertanyaan... Saya langsung menjawab bla bla bla sebagai orang Pertama. Sementara 4 peseta termasuk Si pria dan so cantik, terbata-bata entahlah vocabulary apa yang mereka gunakan!

Akhirnya resetnya berakhir, setelah menjawab beberapa pertanyaan Basic tentang kepemerintahan, Pancasila, UUD, dan moral. Intinya PPKN anak SD! 

Saya pulang dengan setitik kepercayaan di dada, saya bisa! Saya bisa lulus!! Dengan cerewet ya saya ceritakan ke Mama dan papa tentang pengalaman saya hari itu! Tentang si peserta pria mahasiswa kampus terkenal yang mama papanya pejabat, tak lupa saya ceritakan juga sang gadis seksi anak pak asisten pemprov, dan kekesalan saya akan paralel Question yang sungguh sangat tak adil, tak valid, tak reliabel!! Papa saya bilang, "apapun hasilnya, itu adalah yang terbaik buatmu"

Hari pengumumanpun tiba! Dan saya tak lulus!! Ya allah, takabur menghancurkan saya! Itu pelajaran yang tak ternilai! Tepat dugaan saya. Si pria anak pejabat dan si seksi anak pak asisten lulus! Gila!! Bagaimana cara mereka menilai, wong nyata di depan saya mereka tak bisa bahasa Inggris!!!! Jawaban mereka hasil Copian jawaban peserta sebelumnya!!! Inilah potret keadilan dan kualitas provinsi ku?? Aku cinta provinsi ku! Aku mau mengabdi wali tanpa disuruh! Dan saya tau, ada banyak orang seperti saya yang cinta tanah kelahirannya dan mau turut serta dalam membangun tanah kelahirannya! Tapi apakah kami-kami ini harus kalah oleh keponggahan KKN? 

Saya menangis semalaman jika mengingat betapa susahnya "hidup". Mengenang betapa bersemangat ya saya mengukir masa depan! Sayang ukiran saya harus "salah ukir dan tak berharga lagi" hanya karena pengalaman buruk KKN! Hanya karena sang anak asisten Pemprov yang rok mininya nyaris memperlihatkan pakaian dalamnya?!!! Apakah saya harus kalah dari mereka? Sebegitu jelekkah kemampuan bahasa Inggris saya dibandingkan anak-anak pejabat yang hanya bisa mengatakan "YES" dan "No" saja?? Ya allah!! 

Ibu memang selalu menjadi "saingan malaikat" di bumi! Setidaknya itulah yang saya yakini! Mama selalu menghibur saya disaat saha terpuruk oleh ketidak adilan yang saya alami! 

Kata mama "No'u (panggilan kesayangan anak perempuan di Gorontalo), ingat kata papa, apapun hasilnya ini yang terbaik dari Allah. ALLAH tidak akan memberikan sesuatu kepada hamba-Nya tanpa pertimbangan yang terbaik buat hamba tersebut. Ingat ini hanya ijazah SMA, mungkin allah mau ti No'u selesai kuliah dulu. Mungkin dengan ijazah S1, TI No'u akan dapat pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan berijazah kan SMA. Sabar! Pasti allah mempersiapkan dan menyimpan yang terbaik buat TI No'u. Mama doakan, insyallah TI No'U akan langsung mendapatkan pekerjaan selepas S1. Doa orang tua akan diijabah Allah. Mama yakin"

Saya tertegun. Mama, selalu jadi penenang disetiap kekalutan. Tak ada unsur narkotika, tapi Mama laksana pil yang menenangkan, melebihi dosis-dosis obat penenang yang ada (bagaimana rasanya ya obat penenang itu😳). Didalam hati saya bersumpah, "saya harus selesai kuliah, dan bekerja, membantu mama dan papa, harus jadi kebanggaan mama dan papa! Harus bisa membahagiakan mama dan papa! Saya tau saya tak akan mampu membalas jasa mama dan papa, tapi setidaknya saya ingin merasakan bagaimana rasanya mengurus mereka, seperti mereka mengurus saya"
Tak akan lagi saya "baraba"! Takabur pembawa bencana! Sudah terbukti! Biarlah orang yang menilai seperti apa saya. Saya tau saya memang "besar mulut", tapi nilailah juga saya secara valid! Jangan hanya mulut saya, nilai juga kemampuan saya yang sebenarnya, jangan hanya seperti paralel Test ujian CPNS! Nilainya keseluruhan paket, jangan hanya sebagian saja!

Untuk semua teman-teman. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda! Orang tidak akan pernah berhenti menilai Anda, walaupun mereka tidak berhak melakukan itu. Mereka akan selalu mencari celah dan hanya mampu menilai keburukan Anda, karena mereka takut membicarakan dan menilai kebaikan Anda. Keabadian yang abadi tidak eksis di masa kini, tapi akan datang di masa akan datang! Keep on doing your best! Chasing your Dreams! 

Untuk mama dan papa di alam sana! Ramadan karim! Banyak AlFatehah dan YaSeen untuk mama dan papa! Semoga tersenyum dengan semua yang kita lalui bersama! 


#Magill #SouthAustralia #Sunday7June15
#WithLove #SendingAlfatehah #SendingYaseen #Hugs #Kisses
#TurnedBlue

Tuesday, February 10, 2015

Engkau bukan lagi "merpatiku yang tak pernah ingkar janji"

Air mata ini serasa tak berarti lagi. Hanyalah air bening yang tak bermakna setiap kali ia jatuh. Rasa ku telah mati. Hatiku telah beku. Hariku melayang percuma. Same old stories. Aku muak dengan semuanya. Begitu susah untuk bangkit dan berdiri lagi. Engkau yang dulu selalu menjadi merpatiku yang tak pernah ingkar janji, sekarang berubah menjadi seekor anjing yang hanya mengincar tulang semata. 

Disaat aku butuh dukungan untuk menyelesaikan PhD dan menjadi pembicara di International confrence di Jepang, engkau menikam aku dari bekalang, sembari tertawa melihatku yang tengah merenggang nyawa akibat tikaman itu. Tak sedikitpun engkau bertingkah layaknya ksatria berkuda putih yang menyelamatkan sang putri. Semua berubah total. Aku tak lagi bisa mempercayaimu seperti kala itu. Tak ada lagi perasaan tenang yang selalu aku rasakan setiap kali aku bersamamu menyelesaikan masalah yang kita hadapi berdua. Hambar. Jajanan kita sudah basi karena rasa yang tak nikmat lagi. 

Merpatiku selalu ingkar janji......



Friday, February 06, 2015

Pergi juga!

Hari yang melelahkan! Kemaren aku sibuk mengobrak-abrik website untuk the Sixth Asian confrence on Art and humanistic yang bakalan berlangsung di Osaka Jepang tanggal 2 hingga 5 April 2015 oleh IAFOR. Gila! Dana yang aku punya dari School Of communication,  international studies and languages Universitasku sekitar AUD$ 2,400 untuk 3 tahun PhD candidacyku. Sayang nya kemaren aku baru register dan booking accomodation, namun dana yang aku habiskan telah nyaris setengah dana yang akan diberikan😭


Whoaaaa.... Masih harus menunggu kabar dari Travel team Uni untuk airfare, pun aku harus mengurus visa Jepang😭 bakalan tekor deh kayaknya. Padahal aku juga harus fokus ke revisi😭 

Beri kekuatan hambamu ini ya Allah🙏 Baiklah, aku harus siap-siap ke uni dulu.
See you soon!

Tuesday, February 03, 2015

That day is finally here

Sudah berulang kali ini terjadi. Namun aku tak pernah merasa bosan, justru aku menikmati pengulangan itu. Sayangnya, hari ini waktu itu pun tiba. Tak bisa ditolak tak bisa dielakkan lagi. 

Perpisahan sepertinya enggan beranjak dari fokus hidupku. Disaat sehari menjelang hari kelahiranku, aku harus mengalami kehilangan lagi. Lima tahun lalu mama berpulang ke pangkuan sang Illahi tepat di hari ulang tahunku. Saat itu aku berfikir tak akan pernah merasakan kebahagiaan dan tak memiliki hak untuk menikmati keceriaan karena rasa kehilangan yang teramat sangat. 

Keluargaku memang bukan keluarga yang suka merayakan hari ulang tahun besar-besaran, tapi kami selalu menganggap hari ulang tahun sebagai suatu momen yang teramat spesial. Hari ulang tahun adalah hari dimana kita memperingati tonggak bersejarah hidup kita. Mengenang kembali napak tilas hidup kita di bumi.

Bertahun-tahun sejak kematian mama yang tepat di hari bahagiaku membuat aku enggan mengenang hari spesial ku. Ku fikir hari kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidupku hanya akan terjadi satu kali itu saja. Setidaknya aku bahagia mengetahui hal tersebut bahwa aku tak akan merasa kehilangan lagi. Sayangnya hal tersebut hanyalah sebuah salah kaprah hidup yang Tuhan tiupkan ke jiwaku agar aku bisa tegar. 

Setelah aku sanggup bangkit dari keterpurukan karena kehilangan sosok mama yang begitu teramat hebat buatku, kali ini aku pun harus mengecap pahitnya kehilangan yang sama. Lucunya kehilangan yang sama akan sosok yang begitu khusus di hari yang khusus. 

Yah sekali lagi aku harus berdarah menikmati sandiwara dunia yang aku lakoni bersutradarakan Sang maha Khalik. Engkau pergi! Yah... Engkau pergi meninggalkanku tepat di hari ulang tahunku. Momen yang begitu ingin aku lewati bersamamu saja. Hanya bersamamu. 

Aku tau engkau pergi atas nama cinta yang tak bisa engkau raih. Tapi apakah kau tau kalau aku pun tak bisa meraih cintaku? Mengapa engkau berfikir bahwa hanya engkaukah yang tak sanggup menggapai cintamu? Mengapa engkau tak bisa melihat ataupun merasa bahwa aku tak jauh lebih beruntung dari pada dirimu? 

Aku paham akan semua keputusanmu, tapi mengapa engkau harus pergi tepat di hari ulang tahunku? Hari yang begitu ingin coba aku lupakan karena kematian mama? Kenapa kau pilih hari yang aku coba cintai untuk bangkit demi orang yang aku cintai untuk hari dimana engkau meninggalkanku? Bukankah engkau salah satu orang yang aku cintai? Dan tanpa ragu engkaupun tau itu. Kenapa kau memilih hari ulang tahunku? Kenapa engkau memilih bulan Februari? Bulan yang begitu indah buat mereka sang pencinta? Bulan kasih sayang?! 

Tak pantaskah aku bahagia di bulan kasih sayang? Aku tau sederet cerita barat tentang bulan kasih sayang yang bahkan aku sendiripun tak tau apakah mereka nyata ataukah hanya sebuah mitologi semata. Namun setidaknya engkaupun tau jika semua orang berhak bahagia. Kenapa aku tidak? 

Mungkin engkau tak sejauh itu berfikir tentang semua. Namun aku adalah orang yang berbeda darimu. Aku menganggap bulan Februari sebagai bulan yang sakral. Kenapa tak bisa engkau melihat hatiku?

Lucu, aku merasa tulisan ini sebagai sebuah gugatan cinta kepadamu. Tapi apa benar aku pantas untuk menggugat keputusanmu setelah aku menyakitimu? Bahkan pertanyaan paling klise pun, benarkah cinta itu nyata adanya? Aku khawatir semua ini justru akan menjadikan aku lebih tak percaya akan keberadaan cinta. Aku semakin membenci hari ulang tahunku.

Selamat jalan. Engkau akan selalu nyata di dalam hatiku, walau cinta kita mungkin tak nyata. Selamat berbahagia tanpa tekanan dariku lagi jika memang selama ini aku selalu menekanmu. Selamat menata masa depan. Doaku selalu menyertai. Semoga kebencianmu padaku memudar seiring waktu. Semoga engkau akan paham makna dibalik penolakan ku. 

Rindu ku selalu ada buat kamu.