Showing posts with label Prose. Show all posts
Showing posts with label Prose. Show all posts

Thursday, November 27, 2008

KEPADA SEORANG ASING

Orang asing yang lewat!kau tak tahu betapa aku rindu untuk bertemu

denganmu,

Engkau pastilah lelaki yang sedang kucari, atau wanita yang sedang kucari

(menghampiriku ibarat mimpi)

Aku yakin pernah memiliki saat-saat bahagia denganmu entah di mana

Segalanya terkenang lagi kala kita saling berbagi, mengalir, saling sayang,

murni dan matang

Engkau tumbuh bersamaku, anak lelaki atau wanita yang dulu bersamaku

Aku makan dan tidur bersamamu, tubuhmu bukan hanya menjadi milikmu

pun tak membiarkan tubuhku hanya menjadi milikku

Engkau memberiku keriangan matamu, wajahmu, kulitmu saat kita berpisah

kau mengambil jenggotku, dadaku, tanganku tatkala

kembali pulang

Aku tak berbicara padamu, aku memikirkanmu sewaktu aku duduk sendirian

atau saat terjaga malam-malam sendirian

Aku menunggumu, aku tak ragu aku akan bertemu kembali denganmu

Aku bersaksi bahwa aku tak केहिलान्गंमु



WALT WHITMAN



SELAMAT TINGGAL KHAYALKU


Selamat tinggal Khayalku!

Selamat berpisah belahan jiwaku, kekasihku!

Aku pergi jauh, aku tak tahu kemana,

Dan demi nasib yang mana, atau apakah aku akan kembali melihatmu,

Maka selamat tinggal Khayalku.

Kini buat terakhir kali—biarkan aku sejenak menoleh ke belakang;

Bunyi tik tok jam yang kian melemah berada dalam diriku,

Pergi, saat sore hari, dan segera degup jantung ini akan berhenti.

Lama kita hidup bersama, bahagia, saling menjaga

Betapa menyenangkan!—tapi kini terpisah—Selamat tinggal Khayalku,

Namun biarkan aku tak terlampau tergesa,

Sungguh lama kita hidup bersama, tidur, saling merasuk, berbaur

jadi satu;

Lalu andai kita mati, kita mati bersama, (ya, kita akan masih satu,)

Jika kita pergi ke mana pun kita akan pergi bersama untuk bersua peristiwa-peristiwa,

Barangkali kita akan menjadi semakin baik dan gembira, dan belajar sesuatu,

Barangkali justru engkaulah kini yang memanduku ke nyanyian-nyanyian sejati

(siapa tahu?)

Barangkali justru engkaulah tombol maut yang menghancurkan, menentukan—maka kini

akhirnya,

Selamat tinggal—dan salam! Khayalku।



WALT WHITMAN

Wednesday, November 26, 2008

Lima Sajak Cinta Pablo Neruda

I
Matilda, nama dari tanaman, atau batu, atau anggur,
dari yang dilahirkan bumi,
dan kekallah kata milik ia yang subuhnya beranjak,
ia yang musim panasnya meretaskan kemilau jeruk-jeruk sitrun. Di dalam nama itu perahu-perahu berlayar
dikepung kobaran biru lautan,
dan huruf-hurufnya adalah air sungai
yang mengaliri hatiku yang terbakar. nama yang telanjang di bawah rambatan daun anggur
bagai pintu terowongan tak dikenal
yang menuju keharuman dunia!serbu aku dengan mulutmu yang membara
tanyai aku, jika mau, dengan sepasang matamu yang malam,
tapi di dalam namamu, biarkan aku berlayar dan tidur.


II
Cintaku, betapa panjang jalan menuju sebuah ciuman,
betapa sunyi pengembaraan menujumu!
Bersama hujan kita ikuti kereta-kereta itu meluncur.
Tak ada fajar di Taltal, tak juga musim semi. Tetapi kau dan aku, cintaku, kita bersama,
dari pakaian hingga akar kita bersama,
bersama di musim gugur, di dalam air, di pangkal paha,
hingga kita benar-benar bersama, hanya kau, hanya aku. Memikirkan upaya sungai yang membawa
begitu banyak batu, delta perairan Boroa,
memikirkan kita yang terpisah oleh kereta dan bangsa kau dan aku hanya harus saling mencintai,
dengan seluruh kebingungan, para lelaki dan perempuan,
bumi yang menanam pohon-pohon anyelir dan merekahkan mereka.


III
Cinta yang sengit, bunga viola yang diliputi duri,
belukar dalam luapan gairah yang gigil,
tombak dari kesedihan, mahkotanya amarah,
demi apa dan bagaimana kau menaklukkan jiwaku? Mengapa kau diburu api kesedihanmu,
tiba-tiba, di antara daun-daun dingin di jalanku?
Siapa yang mengajarimu langkah-langkah menujuku?
Bunga apa, batu apa, asap apa yang menunjukkan rumahku? Yang pasti ialah yang menggetarkan malam yang ngeri,
fajar menyirami semua tubuh dengan anggurnya
dan matahari membuka kehadiran semestanya sementara cinta yang bengis mengepungku tanpa ampun
hingga melukaiku dengan pedang dan duri
ia bukakan dalam hatiku, jalan terdekat menujumu


IV
Kau akan mengenang celah gunung yang bertingkah
ke mana debaran wangi mendaki,
dari waktu ke waktu seekor burung bergaun
air dan kelambanan: pakaian musim dingin. Kau akan mengenang karunia-karunia alam:
keharuman yang beringas, lempungan emas,
rumput belukar, kegilaan akar,
menyihir duri jadi belati. Kau akan mengenang buket bunga yang kaubuat,
buket keteduhan dan air yang hening,
buket bagai batu berbuih. Dan saat-saat itu menjadi tak pernah dan selalu:
kita pergi kepada yang tak mengharapkan apa-apa
dan menemukan semua yang diharapkannya.


V
Malam tak menyentuhmu, tidak udara, tidak aurora,
hanya bumi, kebajikan gugusan itu,
buah-buah apel yang terbit mendengarkan air murni,
lumpur dan damar dari negerimu yang harum. Dari Quinchamalí di mana sepasang mata
hingga kakimu diciptakan di Frontera bagi diriku
kau adalah tanah pekat yang mengetahui:
di pangkal pahamu seluruh gandum kusentuh lagi. Barangkali kau tak tahu, putri Arauco,
bahwa sebelum mencintaimu diriku terabaikan ciumanmu
hatiku terus mengenang bibirmu dan aku menjadi pesakitan di jalan-jalan
sampai aku mengerti telah kutemukan
cinta, tanah ciuman dan merapiku.(Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dina Oktaviani)

Senantiasa

Aku tidak cemburu
pada apa yang pernah datang sebelum aku.

Datanglah bersama lelaki,
lelaki di kedua pundakmu,
Datanglah bersama seratus lelaki di rambutmu,
Datanglah bersama seribu lelaki di antara payudara
dan tungkai kakimu,
Datanglah bagai sebatang sungai
yang mengalirkan lelaki-lelaki
dengan arus menuju laut ganas,
dengan ombak abadi, menuju: Waktu!

Datanglah bersama mereka semua
Datang ke padaku menunggu;
Kita akan senantiasa sendiri,
Kita akan senantiasa hanya kau dan aku
sendiri di bumi sendiri
memulai hidup kita sendiri!


Sajak Pablo Neruda

Nyanyian Putus Harapan

Kenangan tentangmu bangkit dari malam seputarku.
Sungai membaurkan keluh kesahnya dengan laut.
Tinggal sunyi sendiri, bagai para liliput di fajar hari.
Ini jam bagi keberangkatan, O aku yang tinggal sepi.
Bungkul kuntum bunga beku menghujani hatiku.
O lorong runtuh, puing berkeping kapal karam.
Padamu yang perang dan yang terbang tersatu.
Darimu sayap-sayap pada lagu burung terbangkit.

Engkau menelan habis segalanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu
O jauh dari segala, O terpencil dari segala.
Ini saatnya berangkat। O seorang telah disiakan!




Sajak Pablo Neruda

broke heart

Suara halus yang terdengar perih menyayat hati
Terngiang di telinga ini
Tetesan air lembut dingin
Mengalir disela-sela jari

Meratapi puing-puing hati
Yang hancur berserakan
Terpecah karena keegoisan

Mencoba menatanya kembali dengan rapi
Walau telah menjadi
Serpihan-serpihan yang tak berarti

Takkan kusesali
Walau terus kutangisi
Takkan kuhindari
Akan kuterjang hingga aku lelah dan mati

Tuesday, November 18, 2008

Precious and Rare

Just like a rose, so precious and rare
is the forever friendship, the two of us share
Planted with kindness,it's warmed by the sun
of caring and sharing,laughter and fun
A blessing of beauty unsurpassed,
Our friendship's a flower that will always last




Sexy Myspace Comments
Hot! Myspace Comments

Sunday, November 16, 2008

Lessons of My Life

I feared being alone until I learned to like myself.
I feared failure until I realized that I only
fail when I don't try.
I feared success until I realized that I had to try
in order to be happy with myself.
I feared people's opinions until I learned that
people would have opinions about me anyway.
I feared rejection until I learned to
have faith in myself.
I feared pain until I learned that
it's necessary for growth.
I feared the truth until I saw the
ugliness in lies.
I feared life until I experienced
its beauty.
I feared death until I realized that it's
not an end, but a beginning.
I feared my destiny, until I realized that
I had the power to change my life.
I feared hate until I saw that it
was nothing more than ignorance.
I feared love until it touched my heart,
making the darkness fade into endless sunny days.
I feared ridicule until I learned how
to laugh at myself.
I feared growing old until I realized that
I gained wisdom every day.
I feared the future until I realized that
life just kept getting better.
I feared the past until I realized that
it could no longer hurt me.
I feared the dark until I saw the beauty
of the starlight.
I feared the light until I learned that the
truth would give me strength.
I feared change, until I saw that
even the most beautiful butterfly
had to undergo a metamorphosis
before it could fly.

Friday, November 14, 2008

Till The End of Our Time

You live in my heart
You gave light to my life
You gave me courage to move on
You gave strength to my weakening soul
You are my precious gem much more than gold
You are the wisdom of my crazy mind
You made me good above those lies of time
Sometimes I feel bad thinking about the reality of life
but the gentle grasp of your love,
inspires me to survive...to keep holding on to our dreams
till the end of our time...

Thursday, November 13, 2008

Until You

Always feeling alone, until you
I didn`t love myself, until you
I didn`t care about life, until you
I never held a friend`s hand, until you
I never told a friend I loved her, until you
No one had ever held me for no reason, until you
No one had ever truly known me, until you...